Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Diperkirakan masih ada 1.890 WNI di China


Elemensatu - Warga negara Indonesia (WNI) di wilayah China daratan masih berjumlah 1.800-an. Pihak Kedutaan Besar terus berupaya menjalin komunikasi dengan WNI untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja di tengah wabah virus corona.

Hal ini disampaikan oleh Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun dalam telekonferensi di Pusat Informasi Virus Corona, Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Senin (10/2).

Djauhari mengatakan, jumlah WNI berkurang signifikan karena kebanyakan mahasiswa Indonesia tidak kembali ke China. Kebanyakan WNI berada di Kota Beijing, Shanghai, atau Guangzhou.

"WNI yang masih di Tiongkok daratan 1.890 orang, berkurang signifikan dari sebagian besar mahasiswa 16.500-an," kata Djauhari yang berbicara dari Beijing.

"Jadi sejak KBRI dan KJRI mengeluarkan imbauan agar adik-adik mahasiswa lanjut libur di Tanah Air, rupanya didengar sehingga kembali ke Indonesia," lanjutnya.

Djauhari menyampaikan data terbaru soal virus corona. Sejauh ini sudah 909 meninggal dunia, sementara ada 40.235 orang terjangkit. Masih ada 23.589 orang yang suspect virus corona, menanti hasil pemeriksaan medis. Sedangkan yang sembuh ada 3.283 orang.

Djauhari mengatakan aktivitas mulai berjalan seperti biasa di Beijing karena warga ibu kota mulai masuk kerja. Namun untuk Provinsi Hubei, titik nol penyebaran virus corona, masih diisolasi dan transportasi masih belum beroperasi.

Sebelumnya ada 3 mahasiswa Indonesia yang gagal pulang dari Kota Wuhan di Hubei. Djauhari mengatakan, mereka tak bisa pulang karena tidak memenuhi standar kesehatan sehingga terpaksa tinggal di Wuhan. Untuk WNI di China, Djauhari tetap mengimbau untuk waspada.

"Kami dari KBRI tetap mengimbau kepada WNI untuk menghindari keramaian umum, jaga kebersihan dan lingkungan untuk menghindari virus corona," kata Djauhari.

Djauhari mengatakan pihak KBRI terus menjaga komunikasi dengan WNI yang masih ada di China.
Komunikasi terjalin melalui pengumuman resmi atau berbagai grup di aplikasi WeChat dan WhatsApp, serta media sosial. Dari komunikasi ini, KBRI bisa mengetahui kebutuhan WNI di China.

"Secara reguler kami melakukan video conference dengan mereka. Ini sebenarnya untuk menyatakan kepada mereka bahwa pemerintah hadir pada saaat krisis dan bersama-sama mereka untuk mendapatkan informasi," ujar Djauhari.

Djauhari mengatakan sejauh ini kondisi para diplomat di KBRI dan KJRI dalam kondisi sehat dan logistik makanan masih cukup. "Kami olahraga senam setiap hari agar kondisi tetap bugar," kata dia lagi.