Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Euro menguat dimana pasar melupakan krisis Turki


Dollar Amerikat Serikat (AS) terkoreksi terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk euro.

Pernyataan Ketua Bank Sentral Amerika (The Federal Reserves) Jerome Powell yang memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga tidak lagi agresif, membuat dollar AS terkoreksi sejak Jumat pekan lalu (24/8).

Mengutip data Bloomberg, Selasa (38/8) pukul 19.47 WIB, euro menguat 0,33% terhadap dollar AS di level 1,1716.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan, pelemahan dollar AS saat ini merupakan hal yang wajar. "Dollar AS sudah terlalu tinggi harganya, dengan adanya pernyataan Powell, wajar kalau misalkan ada koreksi," katanya.

Para pelaku pasar melihat pernyataan Powell menunjukkan kenaikan suku bunga mendekati suku bunga natural. The Fed diperkirakan tidak akan seagresif tahun ini untuk kenaikan suku bunga tahun depan karena ekonomi AS sudah mulai membaik.

Meski saat ini euro tengah menguat, jangan boleh lupa dengan krisis mata uang Turki, lira. Menurut Alwi, sementara ini pasar memilih melupakan krisis tersebut dan berfokus dengan pernyataan Powell.

Namun di satu sisi, krisis Turki masih menjadi bahan evaluasi di Eropa, apakah krisis ini akan memberikan pengaruh ke Uni Eropa. Sebab, sejumlah bank di Uni Eropa memiliki eksposur di Turki.

Para pelaku pasar saat ini juga masih menanti kepastian penarikan stimulus Bank Sentral Eropa (ECB). ECB diperkirakan akan mengakhiri program stimulus di tahun ini.
Ada kemungkinan ECB menaikkan suku bunga tahun depan kalau stimulus sudah ditarik pada tahun ini.


Secara teknikal, EUR/USD berada di atas MA 10 55. MACD di area negatif sudah memberikan sinyal divergen mengarah kenaikan indikator masih ada kemungkinan untuk naik. RSI sudah berada di atas level 50 berpeluang bullish dan indikator stochastic 96 dan 89 terlihat golden cross belum adanya sinyal overbought.

Sumber : www.kontan.co.id

Salam Kopi Sidikalang

 

Salam Kopi Sidikalang

 

Salam Kopi Sidikalang